RISALAH ISLAMI

 

MEMAHAMI ISI KANDUNGAN SURAT AL HAJJ AYAT 11


Allah SWT Berfirman, yang artinya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. QS. Al-Hajj:11

 

Manusia seperti ini sangat mudah terpengaruh oleh hiruk pikuk dunia, dan selalu terombang-ambing dalam ketidak pastian, manusia ini juga lebih suka mencari keuntungan dirinya sendiri ketimbang kemaslahatan umat. Ketika Dia mendapat kebajikan dia bertahan dengan kedudukannya namun ketika Allah mengujinya Dia kemudian tidak tahan dan mencari kedudukan lain walaupun dia tidak ahli untuk mengurusi kedudukan tersebut.

 

Dalam kondisi saat ini, kita banyak melihat fenomena artis yang kemudian banting stir yang dalam istilah mereka di istilahkan hijrah menjadi pendakwah. Padahal, kapasitas keilmuan agama mereka tidak mumpuni untuk bidang ini. Segendang sepenarian, fenomena tadi di perankan oleh artis-artis yang berbondong-bondong melakukan hijrah dari berpakaian ala selebnya ke arah fashion yang lebih syar’i. Gaung Islam kaffah adalah slogan yang terus di dengungkan lewat gaya hidup mereka yang kebetulan memang jadi konten bagi sekian rumah hiburan TV swasta dan misi-misi kapitalismenya. Tidak heran juga jika kita sering melihat artis yang kemudian banting stir menjadi politikus padahal tidak memiliki kompetensi untuk menjadi politikus, atau misalnya terdapat juga para pemuka agama yang kemudian banting stir jadi politikus walaupun tidak memiliki kompetensi yang diprasyaratkan, dan contoh fenomena lainnya.

 

Inilah konsekwensi dari realitas kehidupan dimana agama menjadi sangat genit untuk dimainkan. Suatu proses menuju kearah hiperrealitas. Dimana  hiper-realitas adalah realitas artifisial yang nilainya tidak lagi mencerminkan realitas asasi dan hakiki. Hiper-realitas menciptakan kondisi semu atau kita sebut juga dengan pencitraan diri yang ditujukan untuk nafsu pribadi manusia.

 

Kita sering melihat, ada orang yang awalnya memproklamirkan dirinya sebagai ustadz lalu tiba-tiba terjun di politik. Mencalonkan diri jadi anggota Dewan, Gubernur, Bupati, bahkan Kepala Desa. Mereka  berbuat seperti itu karena terpengaruh oleh hiruk pikuknya dunia akhirnya dia lupa diri dan mau mengambil alih tugasnya politisi. Semula mereka merasa kedudukannya sebagai ustadz akan mampu memberikan kapital untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian Allah mengujinya akhirnya Dia tidak tahan lalu mencoba-coba mencari peruntungan lain dengan terjun atau banting stir ke politik dengan bermodalkan kedok agama dan keberadaan dirinya yang merasa sok religius. Inilah sosok orang yang Hiper-realitas yang terpengaruh oleh hiruk pikuk dunia, dan selalu terombang-ambing dalam ketidak pastian. Manusia seperti ini lebih suka mencari keuntungan dirinya sendiri ketimbang kemaslahatan umat. Ketika Dia mendapat kebajikan dia bertahan dengan kedudukannya namun ketika Allah mengujinya Dia kemudian tidak tahan dan mencari kedudukan lain walaupun dia tidak ahli untuk mengurusi kedudukan atau bidang tersebut. Mereka adalah orang yang tidak pantas diikuti, dan berbahaya untuk kehidupan bermasyarakat. Sesungguhnya bagi orang seperti ini dan orang-orang yang mengikutinya ada kerugian yang nyata.

Wallahu’alam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar