Nabi Muhammad SAW: Kenapa Banyak Orang Bersimpati Kepadanya?
Oleh:
Usep
Sapari Rahman
(Ketua
DMI Desa Nagrak Selatan)
Salah
satu kunci sukses dakwah Nabi Muhammad SAW yaitu diperolehnya simpati dari
masyarakat di seluruh jazirah Arab waktu itu.
Lalu, mengapa beliau bisa mendapatkan simpati yang sedemikian hebat?
Pada umumnya, penduduk Arab dikenal begitu mengagumi dan memuja kekuatan dan keperkasaan. Kekuatan dan keperkasaan selalu dijadikan modal untuk menarik simpati dari masyarakat. Nabi SAW begitu paham dengan kondisi bangsa Arab yang seperti itu. Oleh karenanya, beliau terus berupaya agar kaum muslimin memiliki kekuatan besar guna mendapatkan simpati bangsa Arab. Diplomasi dan kerjasama menjadi upaya dominan yang dilakukan Nabi SAW dalam mendapatkan simpati dari bangsa Arab tersebut.
Sikap
lemah lembut, tidak berlaku keras, dan tidak pernah memberikan syarat-syarat
yang memberatkan terhadap musuh-musuhnya menjadi ciri khas beliau dalam
berdakwah. Beliau pun selalu bersikap manusiawi dan tidak pernah berlaku
sewenang-wenang kepada musuh-musuh yang telah ditaklukannya. Berbeda dengan
kabilah-kabilah lain yang apabila berhasil menaklukan musuh biasanya akan
diperlakukan secara sewenang-wenang.
Walaupun
Nabi SAW dan kaum muslimin memiliki kekuatan sangat dahsyat namun tidak pernah
berlaku sewenang-wenang terhadap musuh-musuhnya. Hal tersebut membuat Nabi SAW dan
kaum muslimin mendapatkan simpati dari bangsa Arab. Sehingga mereka memiliki
minat yang tinggi untuk mengikuti ajaran Nabi SAW.
Yukk…,
Kita Belajar dari Baginda Nabi SAW tentang Bagaimana Cara Memperoleh Simpati
Pelajaran 1:
Pada
peristiwa Fath Mekkah, tatkala pasukan yang dipimpin Nabi SAW telah memasuki
jantung kota Mekkah (Ka’bah), beliau dan pasukan hadir di sana dengan tidak
sama sekali memperlihatkan wajah-wajah yang penuh permusuhan, kemudian Nabi SAW
menyerukan agar pasukannya menghancurkan berhala dan gambar yang berada di
sekitar Ka’bah. Kala itu Nabi membacakan
firman Allah SWT (QS:17:18), yang artinya: ”Katakanlah, telah datang kebenaran
dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” Nabi
kemudian memimpin prosesi thawaf dengan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh
putaran seraya mengumandangkan kalimat talbiyah: ”labbaik Allahumma labbaik”
disertai pengesaan terhadap Allah: ”la ilaha illaLah” dan seruan takbir:
”Allahu Akbar”.
Mendengar
seruan-seruan talbiyah, penduduk Mekkah datang berbondong-bondong ingin
meyaksikan prosesi thawaf tersebut. Mereka tertarik dengan prosesi thawaf, dan diam-diam
juga menaruh simpati kepada kaum muslimin yang tidak memperlakukan mereka
sebagai musuh. Karena setelah berhasil menaklukkan Mekkah, Nabi dan kaum
Muslimin ternyata tidak memperlakukan warga Mekkah sebagai tawanan dan merampas
harta benda mereka, melainkan langsung melaksanakan thawaf bersama.
Seusai
thawaf, ditengah penduduk Mekkah Nabi memberikan khutbah. Beliau menyampaikan
bahwa Allah SWT akan memberikan ampunan bagi anggota suku Kuraisy yang bersedia
masuk Islam dan menghentikan kedzaliman mereka. Penduduk Mekkah tidak akan
diperlakukan sebagai tawanan oleh kaum Muslimin, sebagaimana tradisi masa lalu
dimana pihak yang kalah perang akan ditawan dan harta bendanya akan dirampas. Beliau
pun memberikan kebebasan bagi mereka sebagai orang merdeka, dan bila warga
Mekkah bersedia masuk agama Islam, maka dosa-dosa mereka di masa lalu akan
diampuni oleh Allah SWT.
Mendengar
khutbah yang ramah dan manusiawi itu, warga Mekkah pun bersimpati. Mereka merasa
haru dan kagum pada sikap Nabi SAW yang memperlakukan mereka sebagai sahabat,
bukan sebagai musuh. Padahal sebelumnya mereka sangat memusuhi Nabi SAW, bahkan
nyaris membunuhnya. Kaum muslimin yang dulunya diperlakukan layaknya binatang,
dicaci, dicela, dilempari kotoran, diusir, bahkan hendak dibunuh, kini justru
datang dengan raut muka penuh persahabatan. Karena itulah, beberapa saat
setelah Nabi SAW selesai khutbah, penduduk Mekkah lalu berbondong-bondong menyatakan
diri masuk Islam.
Pelajaran 2:
Imam
Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Asma binti Abi Bakar bahwa ibunya yang
musyrik pernah datang kepadanya. Lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah.
Asma
bertanya, "Ibuku datang kepadaku dan dia ingin agar aku berbuat baik
kepadanya. Apakah aku harus berbuat baik kepadanya?"
Rasulullah
menjawab, "Ya, berbuat baiklah kepadanya."
Pelajaran 3:
Dalam
sirahnya, Ibnu Ishaq meriwayatkan, "Ketika rombongan kaum Nasrani Bani
Najran datang kepada Rasulallah SAW di Madinah, mereka menemui beliau di dalam
masjid selepas salat Asar. Mereka masuk masjid dan salat di sana. Orang-orang
pun hendak melarang mereka, namun Nabi berkata, biarkan mereka. Lalu mereka pun
salat dengan menghadap ke arah Timur."
Atas
kejadian tersebut, Ibnul Qayyim memberikan sebuah komentar yang mengandung
muatan fikih. Dia menulis, "Ahli Kitab boleh memasuki masjid dan
melaksanakan salat di masjid di hadapan umat Islam, dengan syarat hal tersebut
dilakukan jika ada sesuatu sebab dan tidak menjadi kebiasaan.”
Nabi
SAW pun sering mengunjungi para Ahli Kitab, baik dari kalangan Yahudi ataupun
Nasrani. Beliau juga menghormati dan memuliakan mereka. Jika ada di antara
mereka yang sakit, beliau menjenguknya. Beliau pun menerima hadiah dari mereka
dan memberi hadiah kepada mereka.
Pelajaran 4:
Di
dalam Al-Amwal Abu Ubaid menyebutkan sebuah riwayat dari Said bin Al-Musayyib,
bahwa Rasulullah SAW pernah mengeluarkan shadaqah kepada keluarga orang Yahudi.
Al-Bukhori meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi pernah menjenguk orang Yahudi.
Lalu beliau mengajaknya untuk masuk Islam hingga dia masuk Islam. Setelah itu,
beliau keluar dan bersabda, "Segala puji bagi Allah yang dengan
perantaraku telah menyelamatkan dia dari api neraka."
Pelajaran 5:
Al-Bukhori
meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW wafat, baju perangnya masih digadaikan
kepada orang Yahudi untuk memberi nafkah keluarganya. Padahal, beliau bisa saja
meminjam kepada para sahabat, tapi bukannya berarti para sahabat beliau kikir. Beliau
hanya ingin memberikan pelajaran kepada umatnya, bahwa beliau menerima hadiah
dari non-muslim, selama mereka tidak berbuat jahat dan makar, dalam keadaan
damai maupun perang.
Pelajaran 6:
Suatu
hari jenazah seorang Yahudi lewat di depan Nabi SAW. Lalu beliau berdiri. Para
sahabat berkata, "Itu adalah jenazah Yahudi!," beliau menjawab,
"Bukankah dia juga manusia?"
Selian ke enam hal di atas, tentunya masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil dari banyak persitiwa dan kejadian yang menunjukkan bahwa Nabi SAW begitu luar biasa dalam menarik simpati bangsa Arab kala itu.
Nah, sikap Nabi SAW seperti di uraikan di atas, saat ini lazim di sebut dengan istilah sikap moderat. Tatkala mengambil sikap moderat tersebut Nabi SAW sering kali diuji oleh berbagai perlawanan, beragam fitnah, caci maki dan cemoohan dari pihak-pihak yang tidak bersetuju. Namun demikian, terhadap semua tindakan negatif tersebut, Nabi SAW tetap bersikap lemah lembut. Sikap demikian menimbulkan simpati dan keinginan golongan nonmuslim kala itu untuk memasuki Islam. Selain itu, sifat Nabi SAW ini membuat golongan nonmuslim yang ada di Madinah mendengarkan seruan-seruan kebaikan dan perdamaian yang disampaikan beliau.
Memang, sikap moderat seperti dicontohkan Nabi SAW sulit kita terapkan, karena sikap tersebut hanya di miliki oleh mereka yang mempunyai kedalaman ilmu agama. Namun demikian, tidak ada salahnya bagi kita untuk terus belajar menjadi moderat sebagaimana Nabi SAW contohkan. Beliau, mampu menjadi teladan bukan hanya untuk kaum muslim saja tapi pun juga bagi kalangan nonmuslim. Beliau adalah rahmatan lil alamin, kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan rasa kedamaian dan ketentraman bagi alam semesta terutama semua manusia tanpa membedakan agama, suku, dan ras. beliau menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di dalamnya tumbuhan, hewan dan lingkungan. Betapa di kehidupan kita saat ini, kita merindukan sosok orang-orang yang mampu bersikap perilaku seperti beliau. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.
Sumber:
Dikutip
dengan beberapa perubahan dari artikel berjudul “Nabi Muhammad, Teladan dan
Motivator Moderasi Beragama” oleh: Dr. Biltiser Bachtiar, Lc, MA. https://kemenag.go.id/read/nabi-muhammad-teladan-dan-motivator-moderasi-beragama-orlpk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar