DMI

Data Masjid dan Mushola

Desa             : Nagrak Selatan

Kecamatan   : Nagrak

Kabupaten    : Sukabumi



Artikel

 

PENDIDIKAN AKHLAK UNTUK ANAK


Oleh:

Ust. Deni Hamdani, S.Pd.

(Seksi Pendidikan MUI Desa Nagrak Selatan)

Dalam siklus kehidupan manusia, masa kanak – kanak merupakan sebuah periode yang paling penting, namun sekaligus juga merupakan suatu periode yang sangat berbahaya dalam artian sangat memerlukan perhatian dalam kesungguhan dari pihak – pihak yang bertanggung jawab mengenai kehidupan anak – anak. Sebab, seorang anak pada hakekatnya telah tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan maupun keburukan. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya cenderung kearah salah satu dari keduanya. Sebagaimana dalam sabda Nabi Saw :

 ما من مولود إلا يولد على الفطرة وإنما أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (رواه مسلم)

Artinya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah ( bersih dan suci ); maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. (HR. Muslim) [1]

Oleh karena itu, penanaman pendidikan pada masa itu sangatlah penting agar anak memiliki bekal dalam hidup selanjutnya. Dan pendidikan yang relevan ditanamkan pada masa ini adalah pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak harus dilakukan sejak dini, sebelum kerangka watak dan kepribadian seorang anak yang masih suci itu diwarnai oleh pengaruh lingkungan (millieu) yang belum tentu paralel dengan tuntunan agama.[2]

Al-Qur’an telah memberikan gambaran yang jelas mengenai pendidikan akhlak pada anak – anak yang tertuang dalam surat Lukman.

1. Akhlak Kepada Allah

 

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان : 13)

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman mengatakan kepada anak-anaknya untuk memberikan pelajaran : Hai anakku ! janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah suatu kesalahan besar”. (Q.S. Luqman : 13). [3]

Ayat tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Tuhannya. Kemudian anak – anak hendaklah diajarkan untuk mengerjakan sholat. Sehingga terbentuk manusia yang senantiasa kontak dengan penciptanya.

 يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ (لقمان: 17)

 Artinya : “Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan mencegah (mereka) dari perbuatan yang munkar…”. (Q.S. Luqman : 17). [4]

 2. Akhlak Kepada Orang Tua

 

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (لقمان : 14)

Artinya :  “Dan kamu perintahkan kepada manusia (berbuat baik) terhadap dua orang ibu bapaknya : ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kamu kembali ”. (Q.S. Luqman : 14). [5]

Islam mendidik anak-anak untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua sebagai rasa terima kasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anak-anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada orang tua menempati posisi setelah perintah bersyukur kepada Allah.

3. Akhlak Kepada Orang Lain

 

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي الاَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّه َ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ(لقمان18)

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Luqman :18). [6]

Kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka dan berjalan dimuka bumi ini dengan congkak. Karena perilaku-perilaku tersebut tidak disenangi oleh Allah dan dibenci manusia.

4. Akhlak Kepada Diri Sendiri

 

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (لقمان : 19)

Artinya : “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Luqman : 19). [7]

Berbarengan dengan larangan berjalan dengan congkak. Allah memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak menghempaskan tenaga dalam bergaya, tidak melengak-lengok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi berjalan dengan sederhana, langkah sopan dan tegap. Memelankan suara adalah budi yang luhur. Begitu pula percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang (melengking) dalam berbicara termasuk perangai yang buruk.

Demikian Allah Swt telah memberikan contoh kongkret mendidik akhlak anak-anak. Jika setiap orang tua dapat melaksanakannya dengan baik, maka besar harapan anak-anak akan tumbuh menjadi manusia-manusia muslim yang berakhlak luhur.


Program Kerja Manajerial ZIS Desa Nagrak Selatan

 

Daya Dukung

ZIS Desa

Dewan Masjid Indonesia (DMI) Desa

Artikel

FIQIH KEBENCANAAN




Oleh :
Jaja, S.Pd
(Ketua MUI Desa Nagrak Selatan)


Sebagai bahan literasi bagi warga Desa Nagrak Selatan, Kami mencoba menyusun Fiqih Praktis tentang kebencanaan. Mudahan-mudahan melalui buku sederhana ini wawasan dan pengetahuan warga berkenaan dengan bagaimana Ilmu Fiqih menghadapi musibah/bencana dapat dipahami bersama.

Untuk membaca buku Fiqih Praktis Kebencanaan, silahkan Klik link di bawah ini!

Artikel

 

Nabi Muhammad  SAW:  Kenapa Banyak Orang Bersimpati Kepadanya?


 




Oleh:

Usep Sapari Rahman

(Ketua DMI Desa Nagrak Selatan)

 

Salah satu kunci sukses dakwah Nabi Muhammad SAW yaitu diperolehnya simpati dari masyarakat di seluruh jazirah Arab waktu itu.

Lalu, mengapa beliau bisa mendapatkan simpati yang sedemikian hebat?

Pada umumnya, penduduk Arab dikenal begitu mengagumi  dan memuja kekuatan dan keperkasaan. Kekuatan dan keperkasaan selalu dijadikan modal untuk menarik simpati dari masyarakat. Nabi SAW begitu paham dengan kondisi bangsa Arab yang seperti itu. Oleh karenanya, beliau terus berupaya agar kaum muslimin memiliki kekuatan besar guna mendapatkan simpati bangsa Arab. Diplomasi dan kerjasama menjadi upaya dominan yang dilakukan Nabi SAW dalam mendapatkan simpati dari bangsa Arab tersebut.

Sikap lemah lembut, tidak berlaku keras, dan tidak pernah memberikan syarat-syarat yang memberatkan terhadap musuh-musuhnya menjadi ciri khas beliau dalam berdakwah. Beliau pun selalu bersikap manusiawi dan tidak pernah berlaku sewenang-wenang kepada musuh-musuh yang telah ditaklukannya. Berbeda dengan kabilah-kabilah lain yang apabila berhasil menaklukan musuh biasanya akan diperlakukan secara sewenang-wenang.

Walaupun Nabi SAW dan kaum muslimin memiliki kekuatan sangat dahsyat namun tidak pernah berlaku sewenang-wenang terhadap musuh-musuhnya. Hal tersebut membuat Nabi SAW dan kaum muslimin mendapatkan simpati dari bangsa Arab. Sehingga mereka memiliki minat yang tinggi untuk mengikuti ajaran Nabi SAW.

 

Yukk…, Kita Belajar dari Baginda Nabi SAW tentang Bagaimana Cara Memperoleh Simpati

Pelajaran 1:

Pada peristiwa Fath Mekkah, tatkala pasukan yang dipimpin Nabi SAW telah memasuki jantung kota Mekkah (Ka’bah), beliau dan pasukan hadir di sana dengan tidak sama sekali memperlihatkan wajah-wajah yang penuh permusuhan, kemudian Nabi SAW menyerukan agar pasukannya menghancurkan berhala dan gambar yang berada di sekitar Ka’bah. Kala  itu Nabi membacakan firman Allah SWT (QS:17:18), yang artinya: ”Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” Nabi kemudian memimpin prosesi thawaf dengan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh putaran seraya mengumandangkan kalimat talbiyah: ”labbaik Allahumma labbaik” disertai pengesaan terhadap Allah: ”la ilaha illaLah” dan seruan takbir: ”Allahu Akbar”. 

Mendengar seruan-seruan talbiyah, penduduk Mekkah datang berbondong-bondong ingin meyaksikan prosesi thawaf tersebut. Mereka tertarik dengan prosesi thawaf, dan diam-diam juga menaruh simpati kepada kaum muslimin yang tidak memperlakukan mereka sebagai musuh. Karena setelah berhasil menaklukkan Mekkah, Nabi dan kaum Muslimin ternyata tidak memperlakukan warga Mekkah sebagai tawanan dan merampas harta benda mereka, melainkan langsung melaksanakan thawaf bersama.

Seusai thawaf, ditengah penduduk Mekkah Nabi memberikan khutbah. Beliau menyampaikan bahwa Allah SWT akan memberikan ampunan bagi anggota suku Kuraisy yang bersedia masuk Islam dan menghentikan kedzaliman mereka. Penduduk Mekkah tidak akan diperlakukan sebagai tawanan oleh kaum Muslimin, sebagaimana tradisi masa lalu dimana pihak yang kalah perang akan ditawan dan harta bendanya akan dirampas. Beliau pun memberikan kebebasan bagi mereka sebagai orang merdeka, dan bila warga Mekkah bersedia masuk agama Islam, maka dosa-dosa mereka di masa lalu akan diampuni oleh Allah SWT. 

Mendengar khutbah yang ramah dan manusiawi itu, warga Mekkah pun bersimpati. Mereka merasa haru dan kagum pada sikap Nabi SAW yang memperlakukan mereka sebagai sahabat, bukan sebagai musuh. Padahal sebelumnya mereka sangat memusuhi Nabi SAW, bahkan nyaris membunuhnya. Kaum muslimin yang dulunya diperlakukan layaknya binatang, dicaci, dicela, dilempari kotoran, diusir, bahkan hendak dibunuh, kini justru datang dengan raut muka penuh persahabatan. Karena itulah, beberapa saat setelah Nabi SAW selesai khutbah, penduduk Mekkah lalu berbondong-bondong menyatakan diri masuk Islam.

Pelajaran 2:

Imam Al-Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Asma binti Abi Bakar bahwa ibunya yang musyrik pernah datang kepadanya. Lalu dia meminta fatwa kepada Rasulullah.

Asma bertanya, "Ibuku datang kepadaku dan dia ingin agar aku berbuat baik kepadanya. Apakah aku harus berbuat baik kepadanya?"

Rasulullah menjawab, "Ya, berbuat baiklah kepadanya."

Pelajaran 3:

Dalam sirahnya, Ibnu Ishaq meriwayatkan, "Ketika rombongan kaum Nasrani Bani Najran datang kepada Rasulallah SAW di Madinah, mereka menemui beliau di dalam masjid selepas salat Asar. Mereka masuk masjid dan salat di sana. Orang-orang pun hendak melarang mereka, namun Nabi berkata, biarkan mereka. Lalu mereka pun salat dengan menghadap ke arah Timur."

Atas kejadian tersebut, Ibnul Qayyim memberikan sebuah komentar yang mengandung muatan fikih. Dia menulis, "Ahli Kitab boleh memasuki masjid dan melaksanakan salat di masjid di hadapan umat Islam, dengan syarat hal tersebut dilakukan jika ada sesuatu sebab dan tidak menjadi kebiasaan.”

Nabi SAW pun sering mengunjungi para Ahli Kitab, baik dari kalangan Yahudi ataupun Nasrani. Beliau juga menghormati dan memuliakan mereka. Jika ada di antara mereka yang sakit, beliau menjenguknya. Beliau pun menerima hadiah dari mereka dan memberi hadiah kepada mereka.

Pelajaran 4:

Di dalam Al-Amwal Abu Ubaid menyebutkan sebuah riwayat dari Said bin Al-Musayyib, bahwa Rasulullah SAW pernah mengeluarkan shadaqah kepada keluarga orang Yahudi. Al-Bukhori meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi pernah menjenguk orang Yahudi. Lalu beliau mengajaknya untuk masuk Islam hingga dia masuk Islam. Setelah itu, beliau keluar dan bersabda, "Segala puji bagi Allah yang dengan perantaraku telah menyelamatkan dia dari api neraka."

Pelajaran 5:

Al-Bukhori meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW wafat, baju perangnya masih digadaikan kepada orang Yahudi untuk memberi nafkah keluarganya. Padahal, beliau bisa saja meminjam kepada para sahabat, tapi bukannya berarti para sahabat beliau kikir. Beliau hanya ingin memberikan pelajaran kepada umatnya, bahwa beliau menerima hadiah dari non-muslim, selama mereka tidak berbuat jahat dan makar, dalam keadaan damai maupun perang.

Pelajaran 6:

Suatu hari jenazah seorang Yahudi lewat di depan Nabi SAW. Lalu beliau berdiri. Para sahabat berkata, "Itu adalah jenazah Yahudi!," beliau menjawab, "Bukankah dia juga manusia?"

Selian ke enam hal di atas, tentunya masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil dari banyak persitiwa dan kejadian yang menunjukkan bahwa Nabi SAW begitu luar biasa dalam menarik simpati bangsa Arab kala itu.

Nah, sikap Nabi SAW seperti di uraikan di atas, saat ini lazim di sebut dengan istilah sikap moderat. Tatkala mengambil sikap moderat tersebut Nabi SAW sering kali diuji oleh berbagai perlawanan, beragam fitnah, caci maki dan cemoohan dari pihak-pihak yang tidak bersetuju. Namun demikian, terhadap semua tindakan negatif tersebut, Nabi SAW tetap bersikap lemah lembut. Sikap demikian menimbulkan simpati dan keinginan golongan nonmuslim kala itu untuk memasuki Islam. Selain itu, sifat Nabi SAW ini membuat golongan nonmuslim yang ada di Madinah mendengarkan seruan-seruan kebaikan dan perdamaian yang disampaikan beliau.

Memang, sikap moderat seperti dicontohkan Nabi SAW sulit kita terapkan, karena sikap tersebut hanya di miliki oleh mereka yang mempunyai kedalaman ilmu agama. Namun demikian, tidak ada salahnya bagi kita untuk terus belajar menjadi moderat sebagaimana Nabi SAW contohkan. Beliau, mampu menjadi teladan bukan hanya untuk kaum muslim saja tapi pun juga bagi kalangan nonmuslim. Beliau adalah rahmatan lil alamin, kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan rasa kedamaian dan ketentraman bagi alam semesta terutama semua manusia tanpa membedakan agama, suku, dan ras. beliau menjadi rahmat bagi semesta, termasuk di dalamnya tumbuhan, hewan dan lingkungan. Betapa di kehidupan kita saat ini, kita merindukan sosok orang-orang yang mampu bersikap perilaku seperti beliau.  Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.

Sumber:

Dikutip dengan beberapa perubahan dari artikel berjudul “Nabi Muhammad, Teladan dan Motivator Moderasi Beragama” oleh: Dr. Biltiser Bachtiar, Lc, MA. https://kemenag.go.id/read/nabi-muhammad-teladan-dan-motivator-moderasi-beragama-orlpk

 

 

Pokok-Pokok Program Kerja MUI Desa Nagrak Selatan

Lihat Pokok-pokok program kerja, Klik Disini!

Rencana Kerja Tahun 2023

Rencana Kerja Tahun 2023
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Desa Nagrak Selatan

Rencana Kerja Tahunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Nagrak Selatan Tahun 2023  


Download RKT MUI Nagrak Selatan Tahun 2023


RISALAH ISLAMI

 

MEMAHAMI ISI KANDUNGAN SURAT AL HAJJ AYAT 11


Allah SWT Berfirman, yang artinya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. QS. Al-Hajj:11

 

Manusia seperti ini sangat mudah terpengaruh oleh hiruk pikuk dunia, dan selalu terombang-ambing dalam ketidak pastian, manusia ini juga lebih suka mencari keuntungan dirinya sendiri ketimbang kemaslahatan umat. Ketika Dia mendapat kebajikan dia bertahan dengan kedudukannya namun ketika Allah mengujinya Dia kemudian tidak tahan dan mencari kedudukan lain walaupun dia tidak ahli untuk mengurusi kedudukan tersebut.

 

Dalam kondisi saat ini, kita banyak melihat fenomena artis yang kemudian banting stir yang dalam istilah mereka di istilahkan hijrah menjadi pendakwah. Padahal, kapasitas keilmuan agama mereka tidak mumpuni untuk bidang ini. Segendang sepenarian, fenomena tadi di perankan oleh artis-artis yang berbondong-bondong melakukan hijrah dari berpakaian ala selebnya ke arah fashion yang lebih syar’i. Gaung Islam kaffah adalah slogan yang terus di dengungkan lewat gaya hidup mereka yang kebetulan memang jadi konten bagi sekian rumah hiburan TV swasta dan misi-misi kapitalismenya. Tidak heran juga jika kita sering melihat artis yang kemudian banting stir menjadi politikus padahal tidak memiliki kompetensi untuk menjadi politikus, atau misalnya terdapat juga para pemuka agama yang kemudian banting stir jadi politikus walaupun tidak memiliki kompetensi yang diprasyaratkan, dan contoh fenomena lainnya.

 

Inilah konsekwensi dari realitas kehidupan dimana agama menjadi sangat genit untuk dimainkan. Suatu proses menuju kearah hiperrealitas. Dimana  hiper-realitas adalah realitas artifisial yang nilainya tidak lagi mencerminkan realitas asasi dan hakiki. Hiper-realitas menciptakan kondisi semu atau kita sebut juga dengan pencitraan diri yang ditujukan untuk nafsu pribadi manusia.

 

Kita sering melihat, ada orang yang awalnya memproklamirkan dirinya sebagai ustadz lalu tiba-tiba terjun di politik. Mencalonkan diri jadi anggota Dewan, Gubernur, Bupati, bahkan Kepala Desa. Mereka  berbuat seperti itu karena terpengaruh oleh hiruk pikuknya dunia akhirnya dia lupa diri dan mau mengambil alih tugasnya politisi. Semula mereka merasa kedudukannya sebagai ustadz akan mampu memberikan kapital untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian Allah mengujinya akhirnya Dia tidak tahan lalu mencoba-coba mencari peruntungan lain dengan terjun atau banting stir ke politik dengan bermodalkan kedok agama dan keberadaan dirinya yang merasa sok religius. Inilah sosok orang yang Hiper-realitas yang terpengaruh oleh hiruk pikuk dunia, dan selalu terombang-ambing dalam ketidak pastian. Manusia seperti ini lebih suka mencari keuntungan dirinya sendiri ketimbang kemaslahatan umat. Ketika Dia mendapat kebajikan dia bertahan dengan kedudukannya namun ketika Allah mengujinya Dia kemudian tidak tahan dan mencari kedudukan lain walaupun dia tidak ahli untuk mengurusi kedudukan atau bidang tersebut. Mereka adalah orang yang tidak pantas diikuti, dan berbahaya untuk kehidupan bermasyarakat. Sesungguhnya bagi orang seperti ini dan orang-orang yang mengikutinya ada kerugian yang nyata.

Wallahu’alam bishowab.